5 Mitos Tentang Jurusan Penyiaran

1451107074-kuliah-pen

Tertarik kuliah di jurusan Penyiaran alias Broadcasting? Mendingan kamu cari info sebanyak-banyaknya dulu, deh, tentang jurusan ini. Soalnya, ada banyaaak banget salah paham tentang jurusan Penyiaran, seperti…

Mitos #1: Jurusan Penyiaran adalah jurusan untuk jadi penyiar

Salah! Ini jurusan pe-nyi-ar-an kak, bukan pen-yi-ar. Apalagi penyair #krikkrik

Penyiaran adalah salah satu cabang ilmu komunikasi yang mempelajari tentang penyiaran serta media siar, yaitu televisi, radio, dan media baru/digital. Jurusan Penyiaran memang punya mata kuliah Teknik Wawancara dan Presentasi yang mengajarkan mahasiswanya dasar-dasar presenting, tetapi jurusan Penyiaran nggak cuma mengajarkan mahasiswanya cara jadi penyiar. Ada banyak hal lain yang dipelajari di jurusan ini, seperti mengedit video siaran, membuat perencaan program televisi dan radio, dan membuat tayangan feature dan dokumenter.

Memang ada lulusan jurusan Penyiaran yang akhirnya jadi presenter atau news anchor, tapi sebagian besar lulusannya justru menekuni profesi lain.

Mitos #2: Lulusan jurusan Penyiaran pasti bakal kerja di televisi

Nggak selalu, ah.

Salah satu tempat bekerja yang ideal bagi lulusan jurusan Penyiaran broadcast memanglah televisi. Tetapi selain televisi, ada juga radio, Komisi Penyiaran, production house dan banyak lainnya. Jadi setelah lulus dari jurusan Penyiaran, nggak “wajib” kerja di televisi, kok.

Justru sebenarnya, ada banyak lulusan jurusan Penyiaran yang bekerja di luar bidang media siaran. Dari mulai yang masih nyambung, seperti di agency periklanan atau media cetak, sampai yang agak random, seperti di perusahaan minyak, bank atau perhotelan.

Mitos #3: Lulusan jurusan Penyiaran pasti jago kamera!

“Acaranya tolong divideoin, ya. Elo kan anak broadcast, pasti jago megang kamera.”

Lulusan jurusan Penyiaran jago megang kamera? Emang jago, sih, kalo cuma megang doang, hihihi.

Meskipun jurusan ini memang mengajarkan teknik dasar menggunakan kamera (video)—dan sebagian lulusannya akhrnya jadi cameraperson—bukan berarti semua mahasiswa jurusan Penyiaran jadi expertdalam urusan kamera video. Apalagi dalam urusan fotografi! Beda bidang, keleuuusss…

Mitos #4: Kuliah jurusan Penyiaran sama aja kayak kursus       

“Elo kuliah Penyiaran? Itu sama aja kayak kursus, ‘kan?”

Tiap mendapat pertanyaan kayak gitu, di situ saya merasa sedih.

Kursus Penyiaran memang ada, begitu juga kursus desain grafis, kursus bahasa Jepang, dan kursus komputer. Tapiii, bukan berarti kuliah di jurusan Broadcasting, Desain Grafis, Sastra Jepang dan Fakultas Teknik Komputer sama kayak kursus, dooong *tersinggung*

1451107056-kuliah-pen

Beda dengan kursus, kuliah di jurusan Penyiaran nggak hanya belajar praktek, tetapi juga belajar teori komunikasi, ilmu manajemen, industri penyiaran, riset dan sebagainya. Pokoknya materi-materi yang NGGAK DIDAPAT DI TEMPAT KURSUS! Percaya, deh, sama kakak!

Mitos #5: Kalau mau melanjutkan kuliah dari D3 jurusan Penyiaran, harus ke S1 jurusan Komunikasi

Ah, kata siapa?

Memang, sih, lulusan program D3 jurusan Penyiaran—seperti yang ada di Universitas Indonesia—biasanya melanjutkan kuliah ke program Ekstensi jurusan Komunikasi Massa. Tapi banyak juga, kok, yang lanjut ke program studi lain, seperti Ilmu Politik,  Hubungan Masyarakat dan Kriminologi.

(sumber gambar: goshen.edu, assets.kompas.com, broadcast-edu.or.id)

Related posts

Leave a Comment