45 Tahun Garin Nugroho Berkarya: Peladang Berpindah yang Tak Pernah Kehabisan Ladang

Oleh: admin televisiku.com

“Bakat adalah pilihan. Jadikanlah bermanfaat dan kerjakanlah yang terbaik.”

Ada orang yang menunggu kesempatan, ada yang menciptakannya. Dan ada yang, ketika kesempatan tidak tersedia, mencari ladang lain untuk ditanami. Perjalanan 45 tahun Garin Nugroho dalam dunia kreatif bisa dibaca dari sudut pandang itu.

Pada 2026, program Kineforum mengadakan diskusi Minggu, 27 September 2026. 16.30 WIB. Bioskop Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki  dengan tajuk :

45 Tahun Garin Nugroho Berkarya.  Semuanya menunjukkan bahwa karier kreatif bukan jalan lurus, melainkan perpindahan dari satu ladang ke ladang lain.

Dari Dokumenter ke Ekosistem

Garin memulai kariernya dari film dokumenter seperti *Tepuk Tangan* (1986) dan *Menyuling Minyak* (1988), yang mempertemukannya langsung dengan daerah dan masyarakat Indonesia. Dari sana lahir *Cinta dalam Sepotong Roti* (1990), *Surat untuk Bidadari*, *Bulan Tertusuk Ilalang*, *Daun di Atas Bantal*, hingga *Kucumbu Tubuh Indahku* dan *Samsara*. Ia juga berkarya di televisi, film pendek, dan instalasi.

Ketika modal ekonomi terbatas, Garin membangun modal sosial. Pada 1987 ia mendirikan SET, ruang untuk menumbuhkan bahasa baru, semangat penciptaan, dan komunitas sineas muda. Ia sendiri menyebut dirinya “peladang berpindah”: berpindah bukan karena menyerah, tetapi karena setiap tanah punya tanaman yang berbeda.

Konser-Sinema: Film yang Bercerita Tanpa Kata

Semangat berpindah medium itu terlihat jelas dalam program penayangan tiga film “konser-sinema” Garin: “Opera Jawa” (2006), “Setan Jawa” (2017), dan “Samsara” (2024).

Ketiganya tidak memakai dialog verbal. Narasi dibawa oleh gestur dan bunyi, dengan tari, musik, nyanyian, dan bahasa tubuh sebagai tulang punggung cerita. Ketegangan dibangun lewat koreografi dan komposisi, bukan percakapan. Di tangan Garin, sinema menjadi ruang pertemuan lintas medium antara film dan musik.

Pelajaran untuk Kreator Hari Ini

Kisah Garin relevan bagi siapa pun yang merasa belum punya modal, kamera, studio, atau investor. Titik awalnya bukan alat, melainkan tiga pertanyaan sederhana: apa yang ingin dikatakan, apa yang kita punya, dan siapa yang bisa diajak. Karya lahir dari keputusan untuk mulai, bukan dari kesempurnaan fasilitas.

Dan bila satu ladang tak lagi menghasilkan, cari ladang berikutnya.

Bakat adalah pilihan. Kesempatan selalu ada. Kerjakan yang terbaik, lalu tanamlah sesuatu yang kelak tumbuh setelah kita pergi.

Comments are closed